Bayang Reka Television  on Flash Media merupakan Streaming TV dengan system looping playback.

Sekretariat:
Bugel mas Indah D9-1,Karawaci,Tangerang, Indonesia - 15113
Phone/Fax: (021) 5517190
Email: bayangrekatv@yahoo.com
Bayang Reka Television on Flash Streaming Media
Hak Cipta @ Bayang Reka Television - Po Box 638 Tangerang 15001 Indonesia Phone: 021-5517190 e-mail: bayangrekatv@yahoo.com
Tata Laksana Terapi Lovaas

Banyak praktisi mengakui bahwa pada awalnya mereka tidak begitu percaya pada metode Lovaas. Mereka  beranggapan bahwa metode ini sangat rumit, mahal, anak hanya menjalankan perintah (seperti robot), dan perlakuan terhadap anak serupa dengan melatih lumba-lumba. Narnun ketika ia mempraktikkan metode ini dalam waktu 10 menit putranya dapat menguasai tiga keterampilan baru (mengacungkan jempol, menunjuk, melipat koran). Metode Lovaas diperkenalkan pertama kali oleh lvar Lovaas Ph.D. Inti dari metode Lovaas ini sebenarnya bersumber pada modifikasi perilaku (behavior modification) dan operant conditioning. Metode Lovaas ini hams diajarkan dengan disiplin, konsisten, dan rutin. Idealnya metode Lovaas diberikan pada anak usia 2-5 tahun, dengan latihan sekurangnya 40 jam seminggu. Prinsip dasar metode Lovaas adalah mengurangi perilaku yang buruk atau berlebihan dengan cara memberikan feedback negatif (bisa dengan kata "tidak", raut wajah kecewa, gelengan kepala, dll). Sementara terhadap perilaku yang baik diberikan feedback positif, seperti kata "bagus", hadiah, tepuk tangan, peluk cium, atau kata pujian lain. Pada akhirnya perilaku yang baik akan menggantikan perbendaharaan perilaku yang kurang pantas. Tata laksana perilaku menurut metode Lovaas adalah orangtua atau terapis memberikan instruksi kepada anak. Bila anak langsung bisa mengerjakan instruksi itu dia diberi imbalan. Jika tidak, ulangi kembali instruksi itu. Bila sampai tiga kali anak masib belum bisa juga, orangtua/terapis harus memberikan bantuan. Misalnya, mengarahkan wajahnya bila dipanggil. Begitu terus diulangi hingga anak mengerti bila dipanggil dia harus melihat yang memanggil.

Tata laksana perilaku mempunyai teknik memecah perilaku atau aktivitas yang kompleks menjadi bagian yang kecil-kecil. Bagian yang kecil-kecil ini diajarkan sendiri-sendiri secara sistematik, terstruktur, dan terukur. Untuk instruksi kompleks seperti, "Ambilkan baju cokelat di atas meja, lalu lipat dengan baik, dan simpan di lemari," tentu tidak mungkin dikerjakan anak. Apalagi bila ia belum menguasai konsep "ambil", "lipat", dan "simpan". Selain itu, anak belum mengetahui konsep baju atau warna. Para orangtua dan terapis harus meng~jarkan satu per satu pengetahuan itu, lalu digabungkan dalam rangkaian kecil-kecil. Selanjutnya rangkaian-rangkaian kecil ini digabungkan menjadi satu kesatuan yang kompleks. Cara pengajarannya antara orangtua dan terapis harus sama. Ini untuk membantu anak lebih mudah mempelajarinya. Pengajaran aktivitas baru dimulai dengan system satu guru satu murid dalam satu ruangan yang bebas distraksi (pengalib perhatian). Pengajaran dilakukan berulang-ulang sampai anak berespons sendiri tanpa bantuan {frompi). Baik di rumah maupun di tempat terapi orangtua/terapis harus pula menyediakan gambar- gambar atau alat bantu lain yang memudahkan anak belajar. Seperti untuk mengenalkan buah jeruk, orangtua harus menyediakan buah jeruk dan gambar jeruk. Ini juga membantu anak mengenal benda dengan dimensi yang berbeda.
Secara bertahap anak dibawa ke kelompok kecil, lalu ke kelompok besar. Anak dicoba dimasukkan ke sekolah umum. Di kelas mulanya anak didampingi oleh orang tua/terapis {shadow), yang tugasnya menjembatani instruksi dari guru ke anak, dan juga membantu respons anak. Shadow mula-mula lekat dengan anak, secara bertahap jarak semakin diperbesar bersamaan dengan semakin kurangnya intensitas dan frekuensi prompt. Setiap hari orangtua harus melakukan evaluasi terhadap apa yang telah dicapai anak, sampai detail terkecil. Target perilaku yang bisa dicapai anak harus ditetapkan secara realistis dan sesuai dengan kemampuan anak. Jangan menargetkan terlalu tinggi, karena akhirnya akan membuat anak frustrasi dan kecil hati. Bila anak berhasil melakukan sesuatu tentu orangtua dan terapis akan semakin termotivasi mengajarkan sesuatu yang lebih baru lagi.

----Sumber: http://forum.upi.edu

Kami memiliki 22 room flash streaming edisi terbaru, yang semuanya bisa anda download secara bebas.
Untuk menikmatinya silahkan tekan tombol perak maka anda akan terhubung dengan beberapa room studio streaming kami.


Mengenal Metode Lovaas


Salah satu metoda intervensi dini yang banyak diterapkan di Indonesia adalah modifikasi perilaku atau lebih dikenal sebagai metoda Applied Behavioral Analysis (ABA). Kelebihan metode ini dibanding metode lain adalah sifatnya yang sangat terstruktur, kurikulumnya jelas, dan keberhasilannya bisa dinilai secara obyektif. Penatalaksanaannya dilakukan 4 - 8 jam sehari.

Melalui metode ini, anak dilatih melakukan berbagai macam keterampilan yang berguna bagi hidup bermasyarakat. Misalnya berkomunikasi, berinteraksi, berbicara, berbahasa, dll. Namun yang pertama-tama perlu diterapkan adalah latihan kepatuhan. Hal ini sangat penting agar mereka dapat mengubah perilaku seenaknya sendiri (misalnya memaksakan kehendak) menjadi perilaku yang lazim dan diterima masyarakat. Maklumlah, bila latihan ini tidak dijalankan secara konsisten, maka perilaku itu akan sulit diubah. Bila sudah dewasa nanti anak seperti itu acapkali akan dikatakan kurang mengenal sopan-santun.

Di Indonesia metode modifikasi ini lebih dikenal sebagai Metode Lovaas (nama orang yang mengembangkannya) .

Terapi Applied Behavior Analysis atau ABA sering digunakan untuk penanganan anak autistik. Terapi ini sangat representatif bagi penanggulangan anak spesial dengan gejala autisme. Sebab, memiliki prinsip yang terukur, terarah dan sistematis; juga variasi yang diajarkan luas; sehingga dapat meningkatkan keterampilan komunikasi, sosial dan motorik halus maupun kasar.

Terapi ABA adalah metode tatalaksana perilaku yang berkembang sejak puluhan tahun, ditemukan psikolog Amerika, Universitas California Los Angeles, Amerika Serikat, Ivar O. Lovaas (Handojo, 2003:50). Sekitar tahun 1970, ia memulai eksperimen dengan cara mengaplikasikan teori B.F. Skinner, Operant Conditioning. Di dalam teori ini disebutkan suatu pola perilaku akan menjadi mantap jika perilaku itu diperoleh si pelaku (penguat positif) karena mengakibatkan hilangnya hal-hal yang tidak diinginkan (penguat negatif). Sementara suatu perilaku tertentu akan hilang bila perilaku itu diulang terus-menerus dan mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan (hukuman) atau hilangnya hal-hal yang menyenangkan si pelaku (penghapusan).

Dikarenakan anak autistik mengalami gangguan perilaku, maka harus digantikan dengan perilaku-perilaku wajar. Terapi ini adalah aplikasi ilmu pengetahuan mengenai perilaku yang bertujuan meningkatkan atau menurunkan perilaku tertentu, meningkatkan kualitasnya, menghentikan perilaku yang tidak sesuai, dan mengajarkan perilaku-perilaku baru. Terapi ABA mendasarkan proses pengajaran pada pemberian stimulus (intruksi), respon individu (perilaku) dan konsekuensi (akibat perilaku) menjadi sasaran proses pengajaran dan bimbingan.

Secara prinsip, terapi ABA meliputi 3 langkah memecah keterampilan anak autistik menjadi beberapa bagian atau langkah-langkah kecil. Pertama, terstruktur, yakni pengajaran menggunakan teknik yang jelas. Kedua, terarah, yakni ada kurikulum jelas untuk membantu mengarahkan terapi. Ketiga, terukur, yakni keberhasilan dan kegagalan menghasilkan perilaku yang diharapkan, diukur dengan berbagai cara, tergantung kebutuhan.

Materi pengajaran pada anak autistik harus sesuai dengan perkembangan. Misalnya, keterampilan yang lebih mudah diajarkan lebih dulu. Sedangkan, keterampilan rumit jangan dulu diajarkan sebelum anak menguasai syaratnya. Beberapa kurikulum khusus dalam pengelompokkan keterampilan dan kemampuan anak autistik diantaranya:

1.    Kemampuan untuk memperhatikan. .
2.    Meniru atau imitasi.
3.    Memasangkan.
4.    Identifikasi.

Terapi Applied Behavior Analysis (ABA) anak autistik, mesti mendasarkan proses pengajaran pada pemberian stimulus (intruksi), respon individu (perilaku) dan konsekuensi (akibat perilaku). Ketika melaksanakan teknik ini, seorang terapis atau helper mesti konsisten memberikan stimulus, respon dan konsekuensi yang diberikan. Selain itu,  dibutuhkan juga kemampuan (skill), pengetahuan memadai tentang autisme dan teknik ABA (knowledge). Terakhir, bersikap baik, optimis dan memiliki minat perasaan (sense) terhadap anak spesial autistik sangat menentukan proses terapi yang berkelanjutan.

Sumber: http://members.fortunecity.com
Sekelumit  tentang Bayang
Bayang Reka Television telah menjadi ada sebagai rasa sayang kami terhadap Sdri. Bayang Reka Pradini (alm) yang begitu atensi terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pengentasan budaya disekitarnya.


Bayang Reka Pradini dilahirkan pada tanggal 16 Desember 1989 dan dipanggil Tuhan pada tanggal 12 Januari 2006. Kendati usianya yang masih relatif muda, perhatiannya terhadap musik menjadi bagian yang begitu penting bagi kami. Bayang Reka Pradini menjadi inspirasi kami untuk terus menerus berkarya, tidak harus dengan upaya yang rumit,     sederhana  namun berarti terutama bagi diri sendiri dan bagi orang lain. Bayang Reka Television adalah sisi lain dari usaha untuk tetap menghidupkan semangat Bayang Reka Pradini di dunia ini. Kekuatan dasar yang menopang semangat kami adalah kegigihan pahlawan kecil kami, yang terus menerus berupaya untuk tetap eksis disetiap tempat, setiap waktu, bahkan mungkin sampai saat ini, Bayang masih terus melihat kegigihan kami juga untuk terus mengabadikan perjuangannya.
Sejak usia TK, Bayang selalu menjadi juara kelas, dan kecerdasannya memang sudah tampak sejak ia berusia 2 tahun. Ketika suatu saat ia mampu menhafal tulisan " air susu ibu tanda kasih sayang dan mencerdaskan kita semua" dan tentu membuat kami semua terperanjat waktu itu. Sampai ia berusia 13 tahun tidak pernah ada tanda-tanda kelemahan fisik pada dirinya. Hobinya adalah olahraga Volley dan musik (terutama mencipta lagu dan menyanyi). Namun rupanya Tuhan berkehendak lain. bayang yang begitu taat terhadap Tuhannya, justru dipanggil dalam usia yang masih sangat relatif muda (16 tahun). Namun... kami bangga karena diberi kesempatan melahirkan dan mendampingi Bayang sampai pada usianya yang ke -16.

Jaringan TV-Flash Media
Jaringan TV-Flash Media
Situs TV- online dengan koneksi terbatas
Kunci Keberhasilan Penyembuhan Autisime
AUTISME masa kanak sebenarnya bukan penyakit baru di dunia. Penyakit ini, yang lebih tepat disebut gangguan perkembangan pervasif, sudah ditemukan sejak 1943. Hanya saja belum banyak masyarakat awam, bahkan dokter, yang mengetahuinya karena orangtua atau dokter mengira anak hanya mengalami keterlambatan perkembangan (terutama berbicara) sementara saja..
Anggapan itu tentu saja membuat autisme yang diderita anak semakin parah. Literatur menyatakan, 75 persen anak autisme yang tidak tertangani, akhirnya menjadi tunagrahita. Saat ini jumlah penyandang autisme terus meningkat. Diperkirakan, jumlah penyandang autisme 15 - 20 per 10.000,- kelahiran . Jadi dari kelahiran 4,6 juta bayi tiap tahun di Indonesia, 9.200 dari mereka mungkin menyandang autisme.

Autisme infantil atau autisme masa kanak adalah gangguan perkembangan yang muncul pertama kali pada anak-anak berusia enam bulan hingga tiga tahun. Seorang anak autistik tidak mampu mengadakan interaksi sosial, dan seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Ciri yang sangat menonjol dari penderita autisme adalah tidak adanya atau sangat kurangnya kontak mata dengan orang lain. Penyandang autisme bersikap acuh tak acuh bila diajak bicara atau bergurau. la seakan-akan menolak semua usaha interaksi dari orang lain, termasuk dari ibunya. la lebih suka dibiarkan main sendiri dan melakukan sebuah perbuatan yang tidak lazirn secara berulang - ulang. Sebagian kecil penyandang autisme berhasil berkembang normal, namun sebelum mencapai umur tiga tahun perkembangannya terhenti, kemudian timbul kemunduran dan mulai tampak gejala-gejala autisme. Hingga kini belum diketahui secara pasti penyebab gangguan autisme. Eric Courchesne dari Universitas California San Diego menemukan, sebagian besar penyandang autisme mempunyai otak kecil yang lebih kecil dibandingkan ukuran normal (hipoplasia cerebellum). Pengecilan otak kecil ini terjadi pada masa janin. Selain berfungsi sebagai pengatur keseimbangan, otak kecil juga berperan dalam proses sensorik, berpikir, daya ingat, belajar bahasa, dan juga perhatian (konsentrasi). Hasil otopsi penyandang autisme yang dilakukan para ahli menunjukkan adanya keganjilan pada sistem limbic (pusat emosi di otak), dan kurangnya jumlah sel pada lobus parietalis di otak. Akibarnya, terjadi kekacauan sistem di otak.

Sumber: http://kbi.gemari.or.id
Bila sudah mendapatkan terapi penyandang autisme dapat bersekolah di sekolah biasa. Bahkan, menurut Rudy, ada penyandang autisme di Amerika yang bisa meraih gelar Ph.D. Di Indonesia penyandang autisme sudah ada yang bersekolah di SMU biasa. Walau mereka telah diterapi sehingga bisa bersekolah di sekolah umum, kadangkala ciri autismenya masih muncul, seperti mengoleksi benda yang tak lazirn, atau agak pendiam. Menurut para psikiater, kunci keberhasilan penyembuhan autisme adalah orangtua dan terapi tata laksana perilaku. Dyah Puspita, seorang ibu yang mempunyai putra tunggal penyandang autisme juga mengakui bahwa keberhasilan proses penyembuhan autisme sangat bergantung pada orangtua dan terapi tata laksana perilaku. "Tidak cukup dan tidak akan berhasil bila kita hanya bergantung pada ahli terapi saja.
Orangtua juga harus terjun. Kalau bisa 24 jam sehari. Kalau ahli terapi waktunya sangat terbatas. Anak harus dilatih terus- menerus. Kedengarannya keji. Tetapi, ya harus begitu itu," kata Dyah membagi pengalamannya. Apa saja terapinya? Terapi yang dijalani anak harus terdiri dari terapi medikamentosa (pemberian obat), terapi wicara, terapi okupasi (motorik), terapi perilaku, dan pendidikan khusus (satu guru satu murid). Menurut Dyah, metode terapi yang paling efektif untuk anak autisme adalah terapi dengan metode Lovaas. Metode Lovaas ini pula yang menuntut ikut sertanya orangtua dalam melatih anak. Keikutsertaan orangtua menangani anak dapat menjalin ikatan batin yang kuat antara si anak dengan orangtua. Bila sudah ada ikatan batin anak akan semakin mudah mempelajari sesuatu.

Sejarah Metode ABA Untuk Terapi Anak autis

Metode ABA (Applied Behavior Analysis) sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu akan tetapi tidak ada yang mengklaim sebagai penemunya. Sekitar 15 tahun yang lalu, seorang pakar terapi perilaku yang bernama Ivar O. Lovaas dari UCLA (USA), menerapkan metode ABA pada anak autime. Hasilnya sangat menakjubkan. Autisme pada masa kanak-kanak (autisme infantil) yang semula sangat mustahil disembuhkan, ternyata berhasil ditangani dengan metode ini, sehingga si pasien mampu memasuki sekolah formal. Hebatnya lagi, mereka sulit dibedakan dari anak-anak yang bukan penyandang autis. Prof. Lovaas kemudian mempublikasikan hasilnya, sehingga metode ini dikenal sebagai Metode Lovaas.

Sampai saat ini belum ada metode lain yang sangat terstruktur dan mudah terukur hasilnya, Sebagaimana metode ABA. Dengan demikian metode ini dapat dengan mudah diajarkan kepada para calon pasien terapi. Selain untuk penandang autisme, metode ABA yang tegas dan tanpa kekerasan ini sangat baik bila diterapkan kepada anak-anak dengan kelainan perilaku lainnya, bahkan untuk anak mormal.

PENDIDIKAN bagi anak penyandang autis tidak sama dengan anak biasa. Kurikulum pendidikan yang disiapkan umumnya sangat individual.

Data yang dimiliki Departemen Pendidikan Nasional menyebutkan, penyandang autis yang mengikuti pendidikan layanan khusus ternyata masuk lima besar dari seluruh peserta sekolah khusus.

Jumlah terbesar adalah penyandang tuna grahita (keterbatasan intelektual) berat dan ringan sebanyak 38.545 peserta, tuna rungu 19.199 peserta. Diikuti kemudian penyandang tuna netra 3.218 peserta, tuna daksa 1.920 peserta dan autis sebanyak 1.752 peserta.

Di Indonesia, sekolah yang khusus menangani autis berjumlah 1.752 sekolah. Lima besar provinsi yang paling banyak mendirikan sekolah autis adalah Jawa Barat sebanyak 402 sekolah, Jawa Timur 263 sekolah, Daerah Istimewa Yogyakarta 131 sekolah. Kemudian diikuti Sumatera Barat dan DKI Jakarta yang masing-masing memiliki 111 sekolah untuk penyandang autis.

Direktur Pembinaan Sekolah Luar Biasa Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen) Departemen Pendidikan Nasional Eko Djatmiko Sukarso menyatakan, UU Sisdiknas No20 Tahun 2003 mengamanatkan kepada pemerintah untuk menyelenggarakan pendidikan bagi semua masyarakat. “Pemerintah mengakui dan melaksanakan pendidikan khusus (PK) dan pendidikan layanan khusus (PLK) bagipenyandangautis,” sebutnya.
Hak Cipta @ Bayang Reka Television - Po Box 638 Tangerang 15001 Indonesia Phone: 021-5517190 e-mail: bayangrekatv@yahoo.com
WEB LINK:
Penanganan Austisme 
Menurut phisikiater anak-baik yang tergabung dalam Yayasan Autisme Indonesia yang berkedudukan di Jakarta maupun ahli psikiater anak di RSUD dr. Soetomo Surabaya-autisme dapat dikurangi kelemahannya. "Walaupun tidak bisa disembuhkan 100 persen, tetapi penyandang autisme dapat dilatih melalui terapi, sehingga ia bisa tumbuh normal seperti anak sehat lainnya," kata Dr. Rudy Sutadi, Wakil Ketua Yayasan Autisma Indonesia.
HOME        ABOUT US        ACTUAL NEWS        ARSIP        BRAIN        CYNEMA        DANGEROUS ZONE       FLORA        FAUNA        HEALTH        HIGHWAY          ILMIAH
JOURNEY        KIDS        KULINER        KONFLIK        MAN        MISTERI     MUSIK        PLANET        PSYCHOLOGY        REKAYASA           SPORT     TRAVELING
TRAGEDI         UNPLUGE        WOMAN        X-FILE
All about Psychology:
Video Artikel Lainnya:

Pengaruh Stress terhadap Memori Seseorang

Mengenal Metode Lovaas

Terapi Neurofeedback

COMPLEMENTARY THERAPHY & PHYSICAL THERAPHY

THERAPHY SENSORI INTEGRASI

Anorexia Nervosa

Depresi

Alzheimer

"Theory of Mind" pada Remaja Down Syndrom dan Penyandang Gangguan Perkembangan Mental

Gangguan Mental Ternyata Penyakit Keturunan

Psikopatologi  Anak dan Remaja Termasuk Prediksi Pengalaman Delusional Seperti  yang Dialami Individu Dewasa